KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
TERIMAKASIH ANDA TELAH BERKUNJUNG - SELAMAT MEMBACA - TIADA HARI TANPA BELAJAR dan MEMBACA ^_^

Kisah Nabi Yusuf

Sebelas bintang matahari dan rembulan bersujudlah.
kepadanya Rupawan yang bagai malaikat amatlah indah berseri wajahnya.
Tujuh tangkai gandum yang hijau ditambah tujuh tahun musim kemarau.
Nabi Yusuf tiada berdendam walau dia disakiti.

Yusuf yang kecil pun dibawa berjalan-jalan ke dalam hutan.
Ditinggalkan keseorangan dicampak dia jauh ke dalam perigi.
Angkara jahat aniaya abang-abangnya yang sangat iri hati.
Nabi Yaakub ayah mereka buta sedih sekali.

Yusuf, Yusuf a’laihis salam.

Yusuf diambil kafilah peniaga dijadikan hamba.
Akhirnya dibeli keluarga yang kaya raya pembesar negeri.
Setelah meningkat dewasa bijak bestari menilik mimpi.
Dilantik menjadi menteri negara aman harmoni.

Sebelas bintang matahari dan rembulan bersujudlah kepadanya.
Rupawan yang bagai malaikat amatlah indah berseri wajahnya.
Tujuh tangkai gandum yang hijau ditambah tujuh tahun musim kemarau.
Nabi Yusuf tiada berdendam walau dia disakiti.

Yusuf, Yusuf a’laihis salam.

[Kisah Nabi Yusuf - Aura]

CINTA - APA ADANYA

Sungguh
Cinta mengubah yang pahit menjadi manis
Debu beralih emas
Keruh menjadi bening
Sakit menjadi sembuh
Penjara menjadi telaga
Derita menjadi nikmat
Dan kemarahan menjadi rahmat

Cintalah yang melunakkan besi
Menghancur-leburkan batu karang
Membangkitkan yang mati
Dan meniupkan kehidupan padanya
Serta membuat budak menjadi pemimpin
(Jalaluddin Rumi)

Dalam senyapnya malam
Dalam gundahnya hati
Aku mencari makna sebuah cinta yang hakiki

Dalam raga terlena
Resah hampanya jiwa
Akhirnya terungkap satu cinta di atas cinta

Kadang cinta bahagia
Kadang cinta menderita
Kadang lupa segala-galanya
Karena itu kembali padaNya

Cinta kawan tak sepadan
Cinta guru yang tak berujung
Cinta ibu bapak tak berbalas, diberikan sepanjang jalan
Cinta rosul bagaikan air, mengalir kepada umatnya
Cinta Allah sebuah misteri, bagi setiap hamba-hambaNya

Fitrah manusia mencintai dicintai
Setiap insan mengalami tentang rasa cinta
(Cinta di atas Cinta, The Fikr)

Kalau membahas tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Setiap manusia memiliki persepsi berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Karena, setiap manusia memiliki pengalaman sendiri-sendiri, serta pengetahuan yang berbeda. Allah mendidik kita dengan berbagai peristiwa yang menimpa kita, tentang rasa cinta, agar kita lebih memahami akan hikmah yang tersirat.
Mencintai dengan apa adanya…..
Menurutku hakikat mencintai adalah memberi dengan tidak mengharapkan apapun kecuali kebahagiaan yang dicintai. Karena kebahagiaannya adalah kebahagiaan yang mencintai itu pula. Karena apa ingin memberi? hanya karena sebuah dorongan hati, hati yang memiliki sebuah cinta tanpa syarat, sebuah perasaan walau sekecil apapun, karena hanya mengharap keredloan Allah semata. Dari situlah kemudian timbul kebahagiaan, bahkan mungkin sampai di akhirat kelak. Sebuah gambaran tentang cinta, ibarat satu tubuh, apabila mulut memakan makanan yang enak, otak ikut merasakan, dan tangan mengacungkan jempol, hati merasa gembira, dsb.
Hidup memang selalu ada masalah, karena hidup itu sendiri adalah masalah. Ibarat hati adalah tempat menampung. Jangan jadikan hati kita itu sebesar gelas yang hanya bisa menampung sedikit air. Apabila dimasukkan garam di dalamnya akan mudah terasa asin, dan apabila dimasukkan asam akan mudah terasa asam pula. Jadikanlah hati kita seluas telaga, yang airnya jernih dan bening. Walaupun dimasukkan garam dan asam, tak akan begitu terasa apabila dirasakan airnya.
Wallahu alam bisshawab

Menari di Atas Kertas

Kertas putih akan tetap menjadi putih
Jika tetap dibiarkan putih
Entah berapa lama tidak menjadikan pena itu menari
Terbiasa jari jemari menari sendiri

Mau menulis apa hari ini
Serasa bingung sendiri
Kepala ini, kepala ini pusing
Merasa diri, merasa diri tak bisa bersuara nyaring

Apakah karena sakit itu
Sehingga aku sering merasa ragu
Mengisi hari
Menghadapi takdir ini

Menulis saja pun menggunakan pencil
Agar mudah untuk dihapus
Teringat diri sewaktu kecil
Saat masih belajar menulis

Tetaplah berprasangka baik
Kepada-Nya yang Maha Baik
Saat hari ini merasa bingung
Janganlah kau jadi murung

[Menari di Atas Kertas, Oleh: (FS) Fajar Sujatmiko, S.IP.]

Nuansa Merah

Api unggunnya mulai menyala saudara
Merahnya dipantulkan oleh cermin
Melingkar, jiwa terbakar oleh api
Dendangkan lagu kehidupan

Merah darahku, darahmu juga
Berjuang tak kenal lelah
Membangun peradaban
Demi bangsamu

Malam pun tak lagi gelap dan sunyi
Nuansa merah mulai didendangkan
Kau tak lagi sendiri
Bersama kita mulai menari

Tik, Tik, Tik, Tik
Jari ku pun menari
Tarian di atas huruf
Mata merah mulai mengantuk

Tik, Tik, Tik, Tik
Jam berdetik, jantung berdetak
Api unggunnya mulai padam
Damai menyelimuti kami

(Syair Fajar Sujatmiko, M.IP.)

Gelap dan Terang

Malam gulitanya gelap
Tak gelap bila ada terang
Bintang gemintang, rembulan di sana

Bintang cahaya energi
Kota berhias cahaya
Meski malam gelap ada terang

Rembulan bias cahaya
Indah diterpa malam
Wajah-wajah bercahaya menghias malam

Bila malam tiba
Serasa diri ingin segera berbaring
Menelusuri gelap berlayar di lautan malam

Hidup berawal dari mimpi
Bila ada gelap ada juga terang
Terangkan hati kami ya Allah

Semua Itu Ada Bukunya

Matematika dunianya berhitung
Bahasa dunianya kata-kata
Kimia dunianya reaksi
Akhlak dunianya sopan santun
Sejarah dunianya masa lalu

Semua itu ada bukunya

Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku
Ini bukuku mana bukumu?

Nyanyian Keabadian

Hujan jatuh di luar musim
Menghijaukan rumput di jalan

Hujan jatuh bersama angin
Melambaikan daun di dahan

Hujan jatuh membawa dingin
Menyejukkan rindu di badan

Cinta yang tumbuh setiap musim
Adalah cintaku pada keabadian

[Nyanyian Keabadian - Ayatrohaedi]

Selamat Pagi Indonesia

Selamat pagi Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
Akupun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu
dalam kerja yang sederhana;
Bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar
dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
Selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu pada pekerjaan jalanan;
Kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
Pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
Seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.

Akupun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu.

Pada setiap matahari terbit, o anak jaman yang megah,
biarkan aku memandang ke timur untuk mengenangmu.
Wajah-wajah yang penuh anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
Telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
Terasa benar: aku tak lain milikmu.

[Sapardi - Berkenalan dengan Puisi oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti]

Doa Sehelai Daun Kering

Janganku suaraku, ya 'Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maíshum dan aku bergelimang hawaí
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999

Syahadatain

Di antara sekian banyak tuntunan,
Hanya terbuka dengan satu syarat,
Mulailah segenap diri untuk mengucapkan,
Rangkaian kalimat dua jenjang syahadat.

Jenjang pertama adalah kesaksian,
Bertuhankan Allah yang Tiada Bandingan,
Bukti iman adalah satu kesatuan,
Dengan Islam dan kemantapan ihsan.

Jenjang kedua jugalah kesaksian,
Mengakui Muhammad Sang Utusan,
Mengakui jejak langkah amalan,
Berdasar ilmu sebagai pegangan.

Ucapkan syahadat dengan lidah,
Mantapkan hati dengan pembenaran,
Amalkan ilmu dengan kaffah,
Niscaya diri selamat dari kejahatan.

Apabila saudara telah bersyahadat,
Maka hukum harus ditegakkan,
Tiada kecuali dalam istiadat,
Patuh dan taat kepada ketetapan.

Hukum pertama adalah fardhu,
Bermakna wajib untuk dilakukan,
Jika antum enggan dan tak mau,
Maka dosa yang akan dibebankan.

Hukum kedua adalah haram,
Berarti haruslah ditinggalkan,
Apabila antum tetap melaksanakan,
Makhluk tak sanggup menahan Jahanam.

Hukum ketiga adalah sunat,
Balasan pahala bila dilaksanakan,
Namun jika tiada kesempatan,
Tak lah menjadi sesuatu yang sesat.

Hukum keempat adalah makruh,
Mendapat pahala jika ditinggalkan,
Tak pula membebani kening dengan peluh,
Jika tetap hendak melakukan.

Hukum kelima adalah mubah,
Tidak terpantang dan pula larangan,
Jika dilakukan atau ditinggalkan,
Maka hati tiada bersalah.

Perlu kiranya untuk disampaikan,
Mari istiqomah menaati aturan,
Tiada alasan untuk mengabaikan,
Hukum Allah yang telah ditetapkan.

Sebelum dosa menjadi terlanjur,
Kumpulkan pahala berlajur-lajur,
Jaga akhlak dalam berperilaku,
Apalagi hati yang hampir beku.

Bermohonlah kita kepada Allah,
Agar Islam dan iman memperoleh hakiki,
Tiada satupun niat yang berserah,
Melainkan ikhtiar yang silih berganti.

[Syahadatain - Bahril Hidayat]

Dia

Dia hidup di tengah degup kita
sebagai manusia biasa
tanpa tergantung tanda harga
ketinggian gunung makannya

kita melihat dengan mata,
yang kita nampak
hanyalah lampu palsu
yang selalu menipu
dia melihat dengan sukma,
yang dilihatnya
adalah sinar benar
yang tak kunjung samar

kita berlumba-lumba
mendulang emas mewah
di sungai usia
agar sampai ke laut megah
dia bersungguh-sungguh
menghidupkan api zikir
di unggun hati
agar tidak dingin dan sepi
daripada Nur Illahi

dia meniti di atas jembatan-Nya
tanpa bimbang dan curiga
tanpa mengharapkan pandangan manusia
baginya puji dan umpat
cumalah kicau burung
yang tiada menggunungkan untung
yang tiada memberatkan mudarat.

[Dia - Abizai]

Tuhan Telah Menegurmu

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan sopan
lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang

Adakah kau dengar?

[Laut Biru Langit Biru - Apip Mustapa]

Cermin Hidupku

Seorang tua
terbongkok-bongkok
dan terketar-ketar
dan terbatuk-batuk
berjalan terhingut-hingut
di pasar mencari ketiasan liur

sorang tua
dan garis-garis di muka
kuselami selaut sunyi
yang meronta
lihat saja di pasar itu
anak-anak muda
tiada yang sudi
menjadi teman

kepayahanmu
cuma Tuhan yang tahu

seorang tua
sejambak doa buatmu
kerana aku juga
akan jadi sepertimu

[Cermin Hidupku - Hajah Rosni binti Haji Kurus]

Bagaimana Kalau

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, 
tapi buah alpukat, 
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat, 
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, 
dan kepada Koes Plus kita beri mandat, 
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, 
dan ibukota Indonesia Monaco, 
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, 
salju turun di Gunung Sahari, 
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin 
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop, 
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia 
dibayar dengan pementasan Rendra, 
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, 
dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan, 
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di 
kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki 
pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara 
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan 
margasatwa Afrika, 
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil 
mempertimbangkan protes itu, 
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita 
pelihara ternak sebagai pengganti, 
Bagaimana kalau sampai waktunya  
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

[Bagaimana Kalau - Taufiq Ismail]

Daku dan Ilmu

Fajar nun cerah telah berlalu
Kini sinar mentari itu
Tegak menentang di atas kepala
Panas membara

Tulauhku telah berpelu
Kakiku penat
Namun jiwaku tetap teguh
Aku terus merangkak
Merangkak

Kukuatkan hatiku
Kutabahkan hatiku
Kubulatkan tekadku
'ntuk menjangkaumu

Andai senja mendatang
Kau ku dapatkan
Kan ku persembahkan
Pada bangsa dan negaraku

[Daku dan Ilmu - Mega Ayu Rika]

Ratapan Sang Pohon

Wahai manusia, jangan kau tanam aku
Jika hanya akan disia-siakan
dan diterpa angin dingin
yang menusuk tulang;
Jika hanya untuk menghadang jalan
Jika hanya untuk memperlambat
laju industri dan arus uang;
Jika hanya untuk menghabiskan air,
dan menggalakkan lalu lintas.

Jangan dengarkan keluhan
burung atau sungai
Karena jika gunung gundul
bersuka-rialah sang gagak

Jika kautanam,
tebanglah aku kembali dengan segera,
Jika aku tumbuh bersama si rakus,
Jika buahku menimbulkan peperangan dan amarah,

Jika aku menjadi sarang ular
tebanglah aku segera
Jika daunku hanya menebarkan bau
tumpukan sampah kotor
dan memperpanjang masa sekolah
anak cucumu

Jangan pikirkan badai
dan sengatan mentari
Tak seorang pun dapat terbiasa
di dunia yang semakin gelap

[Ratapan Sang Pohon - Rio Alma]

Seperti Air Laut

Hidup ini seperti air laut
ada pasang ada surut
di dasarnya tersimpan seribu rahsia
penuh harapan
tapi tanpa perlindungan
dari panas dan hujan

Begitulah hidup ini
seperti air laut
sentiasa bergelombang
ombaknya menghempas batu karang
dan buihnya meresap ke pasir
tiada kesudahan

Hidup ini seperti air laut
esoknya masih tiada kepastian
dugaan dan halangan silih berganti
dan bahtera terus berlayar
ke pulau harapan

Hidup ini seperti air laut
sentiasa dalam penantian
berbakti pada yang memerlukan
satu amanah dari Tuhan

[Seperti Air Laut - Abd Latip Talib]

Ikhlas

Perkataan tanpa huruf
huruf tanpa garis
garis tanpa titik
titik tanpa rupa
jika disebut
cendawan suburnya
pasti 'kan mereput
jika ditunjuk
kelopak harumnya
tentu 'kan membusuk

menanam serai budi serumpun
tanpa mengharapkan pohon puji merimbun
menuai padi rezeki sedikit
menampi beras syukur menimbun

memberi dari dasar hati
menerima dengan redah sukma
umpama segelas air jernih
di dalam gelas jernih
tanpa warna
cuma rasa
cinta pada-Nya

[Ikhlas - Abizai]

Lalat di dalam Sholat

Ketika mengharungi lautan sholat
kau cari pulau khusuk yang teduh
namun ribuan lalat mula hinggap di layar ingatan
membawamu sesat di selat khayalan

jangan kau harap akan berjumpa
selagi keakuanmu tidak kau nafikan
selagi keakuan-Nya tidak kau isbatkan

jangan kau harap akan bertemu
selagi tidak kau bersihkan bahtera kalbumu
yang penuh dengan najis cemburu
yang sarat dengan nanah amarah
yang berat dengan sampah dendam
yang pekat dengan lendir berahi
sarang membiak zuriat maksiat
hasil permukahan nafsu dan syaitan

telah cuba kau halau keluar segala lalat
hilang sekejap muncul lagi sesaat
kerana bau busuk merangsangkan seronok
ribuan lalat tak mungkin menjauh
selat khayalan semakin memanjang
pulau khusuk tak kunjung nampak

[Lalat di dalam Sholat - Abizai]

Aku dan Karyaku

Bila kupandang
Jauh ke depan
Aku bersama karyaku

Bila kudengar
Jauh ke belakang
Aku bersama karyaku

Bila kususun
Lautan nan badai
Aku terombang-ambing

Aku lemah
Karyaku kaku
Hijahku senget

Lalu kugeseri karyamu
Kau mantap
Kau tinggi

Agung
Tapi aku
Masih jauh di belakang

[Aku dan Karyaku - Dayang Laila Sari binti Haji Bakar, 8 Oktober 1997]

Menyorong Rembulan


Gerhana rembulan hampir total. Malam gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi. Sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi.

Matahari adalah lambang Tuhan. Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga, dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita.

Dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki. Orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain, atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, akan ke mana melangkah, dan bagaimana melangkah.

Ilir-ilir, kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit. Bahkan kaki kita sudah berlari ke sana ke mari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajarannya-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.

Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.

Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka? Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan.

Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.

Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari, sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya, atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi?

[Menyorong Rembulan - Emha Ainun Nadjib]

Seorang Lelaki Berjalan Malam Hari Menyusur Malioboro

Seorang lelaki berjalan malam hari menyusur malioboro
Ketika hiruk pikuk reda dan engkau lelap dalam ninabobo
Suara gending dari warung kopi, kendaraan yang melintas sesekali
Para lelaki, perempuan dan anak-anak yang tertidur di lantai
Menjadi tumbal nasib, dipeluk dingin kemarau yang bermulut sepi

Malioboro bangkit berdiri ketika matahari tenggelam jauh ke dasar bumi
Malioboro bangkit, dan dengan tangan sepi, mengusap wajahnya yang dikotori
Kemudian dipandangnya langit, rembulan dan sejuta warna warni
Yang menyongsongnya dengan senyuman dan sinar mata penuh misteri
Yang tidak ia perlihatkan waktu siang hari

Seorang lelaki berjalan menyusur Malioboro malam hari
Malioboro yang hidup kembali jika disentuh jari jemari sepi
Sehingga perempuan-perempuan jalanan yang tertawa keras yang mencoba setia kepada sabda Illahi
Sehingga gedung-gedung yang berdiri, barisan cactus yang melambai
Menerima sapuan angin malam dengan penuh kasih dan jiwa murni

Seorang lelaki berjalan menyusur Malioboro malam hari
Malioboro yang wajahnya kotor, penuh coreng moreng dan tusukan-tusukan duri
Namun, bagai kehidupan, bagai panggung sandiwara di atas bumi
: Ia menyimpan kasih, senantiasa menyimpan kasih
Yang tiada nampak, tapi membuat kita bertahan di sini

[Sajak-Sajak Sepanjang Jalan - Halaman 18]

Literasi Informasi

Dalam sebuah cerita rakyat, legenda, pewayangan atau cerita-cerita kepahlawanan (epos), yang tumbuh subur di zaman praliterasi, selalu ada dua jenis pusaka yang dijadikan bahan rebutan oleh para jawara atau dua kubu yang berhadap-hadapan. Pusaka tersebut kalau tidak berupa kitab atau buku, pasti berupa senjata. Ini adalah sebuah pesan historis yang kalau ditafsirkan bisa diartikan bahwa perubahan di dunia ini bisa terjadi oleh dua kekuatan yaitu kekuatan intelektual (yang disimbolkan dengan buku) dan yang kedua adalah kekuatan militer (yang disimbolkan dengan senjata). Perubahan akan berjalan serasi apabila ada sinergi di antara keduanya yaitu adanya sinergi atara kepintaran dan kekuatan. Orang pintar tanpa kekuatan akan lemah, dan orang kuat tanpa memiliki pengetahuan (hikmah) akan merusak.

Kita sudah membuktikannya di republik ini. Indonesia pernah dipimpin oleh seorang intelektual dua kali dan tidak tahan lama karena tidak memiliki kekuatan. Kita pun pernah dipimpin oleh militer. Memang lama berkuasa akan tetapi negeri ini menjadi rusak. Juga, kita pernah dipimpin oleh seorang presiden yang bukan militer dan intelek pun tidak. Maka kita sama-sama menyaksikan semakin tidak karuannya negeri ini.

Dalam sejarah pernah ada seorang pemimpin yang dapat berkuasa secara penuh dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu Firaun. Namanya akan abadi dalam catatan sejarah manusia. Dan ternyata bahwa Firaun membangun kekuatannya bukan hanya ditopang oleh kekuatan militer yang besar, akan tetapi dia sendiri merupakan seorang intelektual. Pada saat meniggalnya, dia memiliki 20.000 koleksi ”buku” di perpustakaannya. Tentu saja tidak berupa buku seperti yang kita saksikan sekarang ini, akan tetapi masih ditulis dalam media tanah liat, kulit kayu, dan kulit binatang. Akan tetapi kita tidak ingin mengatakan: ”Jadi, kalau ingin menjadi orang yang sukses sebagai penjahat jadilah penjahat yang berpengetahuan (white collar crim)”. Ia akan bisa memiliki apa pun yang ia inginkan di negeri ini bukan saja kekayaan akan tetapi juga memiliki kekuasan yang tidak tersentuh oleh para penegak hukum. Penjahat yang tidak berpengatahuan akan menjadi penjahat yang malang. Hasil curiannya tidak seberapa, akan tetapi inilah yang menjadi target buruan penegak hukum. Dan kemudian dieskplotiasi menjadi komoniditas hiburan yang menarik sebagaimana kita saksikan di acara-acara televisi.

Informasi adalah bebas nilai, sebagaimana juga senjata. Sangat tergantung kepada akhlak orang yang memegangnya. Tapi yang jelas informasi adalah sebuah kekuatan, atau meminjam istilah Francis Bacon ”knowledge is power” adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah. Nabi Muhammad SAW. Bersabda: ”kalau ingin menguasai dunia dan akhirat milikilah ilmu.”

Literasi Informasi

Wacana literasi informasi (information literacy) belum begitu populer di Indonesia, walaupun masalah ini bukanlah masalah baru, ”tidak ada yang baru di bawah langit ini” kata Nabi Sulaiman. Kalau kita coba mencari kata ”literasi informasi” ini di Google Indonesia, saya yakin tidak akan lebih dari sepuluh cantuman. Padahal di negara lain literasi informasi bukan lagi sebagai wacana akan tetapi sudah menjadi sebuah kebijakan. Literasi informasi semakin mencuat kepermukaan berbarengan dengan fenomena buta aksara dan rendahnya minat baca yang sudah menjadi masalah nasional, sehingga mendapat pemberitaan oleh media massa (media exposure) yang sangat kuat.

Literasi informasi sendiri dapat diartikan kemampuan seseorang dalam mencari, mengoleksi, mengevaluasi atau menginterpreatisakan, menggunkan, dan mengkomunikasikan informasi dari berbagai sumber secara efektif. Keahlian ini seharusnya telah dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa dengan dunia tulis-menulis atau pendidikan yang dimulai semenjak di bangku SMP. Akan tetapi disitulah letak masalahnya, jangankan murid SMP, mahasiswa pun banyak yang belum memiliki keahlian ini. Padalah tujuan utama dari pendidikan sendiri adalah bagaimana supaya manusia pandai memberdayakan informasi. Untuk dapat dikatakan bahwa seseorang telah melek informasi (information literate) paling tidak harus memiliki kemampuan:

- menentukan cakupan informasi yang diperlukan
- mengakses informasi secara efektif
- mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya dengan kritis
- menggunakan informasi sesuai dengan tujuan

Jelas bahwa dalam dunia pendidikan kemampuan literasi informasi merupakan yang sangat esensial harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Sering kita mendengar pribahasa yang mengatakan ”jangan beri ikan, berilah pancingnya”. Kemampuan literasi informasi adalah ”pancing” bagi sang murid supaya ia dapat belajar mandiri (students’ freedom to learn). Peserta didik akan diajarkan pada sebuah metode untuk menelusuri informasi dari berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Karena tidak akan ada seorang pun pada zaman sekarang ini yang mampu untuk mengikuti semua informasi yang ada. Berdasarkan catatan menunjukkan bahwa sekarang ini perkantoran saja menghasilkan 2,7 miliar dokumen pertahun dan satu juta publikasi diterbitkan setiap tahun.

Oleh karenanya, literasi informasi adalah merupakan sebuah bekal yang sangat berharga untuk tercapainya pembelajaran seumur hidup. Mengingat juga, bahwa sekarang ini kita sedang memasuki era informasi atau ”gelombang ketiga” dalam peradaban manusia menurut Alvin Toffler. Di mana informasi menjadi komoditas yang setiap hari diperebutkan dalam pentas pertarungan global ini. Siapa yang dapat menguasai informasi dialah yang akan bertahan hidup, dan kuncinya adalah literasi informasi. Literasi informasi adalah sebuah keniscayaan zaman.

Landasan yang kokoh untuk menuju melek informasi (information literate) adalah budaya baca masyarakat. Dan budaya baca akan terbentuk manakala minat baca di masyarakat telah tumbuh dan berkembang. Melihat kenyataan Indonesia dalam masalah minat baca mengingatkan kita pada perkataan Soekano, ”menjadi koeli bangsa asing di negeri sendiri,” bahkan mungkin mengingatkan kita sebuah kisah perbudakan bahkan kematian bangsa yang diakibatkan oleh kebodohan rakyatnya

Salah satu jawaban atas kemelut kemiskinan atau keterbelakangan yang terjadi di negeri ini tidak lain adalah: minat baca. Maka kita dapat melihat bahwa jarak minat baca berbanding lurus dengan jarak kemajuan sebuah bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa kunci utama untuk keluar dari kemiskinan dan menuju menjadi bangsa yang makmur adalah dengan membangkitkan minat baca masyarakat. Akar kemiskinan, yang menerpa sebagian rakyat Indonesia, adalah karena masih tingginya tingkat melek aksara dan sangat payahnya minat baca sebagian besar masyarakat. Kita tidak akan menemukan sebuah kenyataan di belahan bumi manapun ada orang berilmu dan luas pengetahuannya tapi hidupnya miskin, kecuali atas dasar pilihan hidup.

Mengapa minat baca bangsa Indonesia begitu rendah? Untuk menjawab pertanyaan ini tidaklah mudah. Karena masalah minat baca sudah merupakan problem sosial, yang memiliki banyak aspek, yang tentu saja memerlukan rekayasa sosial untuk solusinya. Akan tetapi kalau dilihat secara umum rendahnya minat baca ini diakibatkan oleh dua faktor yaitu faktor kultural dan faktor struktural.

Faktor kultural barkaitan dengan mentalitas atau kepribadian masyarakat Indoneisa, yang oleh salah seorang budayawan disebut dengan ”bangsa layak jajah”; pribadi yang ingin cepat maeraih suskes tanpa melihat proses; lebih baik makan singkong hari ini daripada makan nasi tapi besok; mangan ora mangan sing penting ngumpul; lisan lebih dominan daripada tulisan; menonton menjadi hegemoni dibanding membaca; otot lebih berharga daripada otak.

Selain hambatan kultural di atas masih ada faktor-faktor lain seperti faktor kemiskinan atau rendahnya daya beli, kurikulum yang kurang mendukung terciptanya budaya baca, daya dukung infrastruktur (seperti perpustakaan, taman bacaan, harga buku yang mahal. Ditambah dengan faktor struktural, yaitu kurangnya kemauan politik (political will) dari pemerintah untuk sungguh-sungguh meningkatkan minat baca masyarakat. Hal ini bisa kita lihat dari porsi anggaran dalam APBD atau APBN untuk perpustakaan dan peningkatan minat baca.

Untuk mengatasi masalah minat baca dan lebih lanjut ke masalah literasi informasi dapat digunakan tiga macam strategi, yaitu strategi kekuasaan (power strategy), strategi persuasif (persuasive strategy), dan strategi normatif-reedukatif (normative-reeducative strategy). Stragegi kekuasaan hanya bisa dilakukan oleh pemerintah. Dengan kewenangannya dapat mengintruksikan bahkan melakukan mobilisasi struktural dari tingkat presiden sampai struktur yang paling bawah. Misalnya dengan mengeluarkan PP, Kepres, sampai Perda tentang peningkatan minat baca. Di sini juga didukung dengan undang-undang tentang perpustakaan. Strategi kekuasaan akan lebih efektif digunakan karena bersifat memaksa semua elemen pemerintahan untuk beraksi. Juga, mengingat budaya masyarakat ”menunggu perintah dari atasan” yang masih melekat.

Dalam menggunakan strategi persuasif, media massa memiliki peranan yang besar. Karena, pada umumnya strategi persuasif dijalankan melalui pembentukan opini publik dan pandangan masyarakat yang tidak lain melalui media massa (buku, koran, majalah, TV, Internet). Usaha persuasif ini telah dilakukan dengan menayangkan iklan layanan masyarakat di banyak stasiun TV yang disampaikan oleh para selebritis.  Mengingat rakyat Indonesia yang berada dalam kubangan ”budaya nonton,” diharapkan dengan ditampilkannya para selebriti mereka akan terbujuk. Karena sebagian masyarakat Indonesia sulit membedakan mana yang menarik dan mana yang benar.

Dan yang ketiga adalah strategi normatif-reedukatif (normative-reeducative). Normative adalah kata sifat dari norm (norma) yang berarti aturan yang berlaku di masyarakat. Posisi kunci norma-norma sosial dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia telah diakui secara luas oleh hampir semua ilmuwan sosial. Norma termasyarakatkan melalui education (pendidikan). Oleh karena itu, strategi normatif ini umumnya digandengkan dengan upaya reeducation (pendidikan-ulang) untuk menanamkan dan mengganti paradigma berpikir masyarakat yang lama dengan yang baru. Dan lembaga yang paling tepat untuk hal ini adalah lembaga pendidikan.

Menarik sekali membaca pengalaman Malaysia dalam menerapkan kebijakan literasi informasi di sekolah. Mohd Sharif Mohd Saad, staf pengajar Fakultas Manajemen Informasi MARA, menuturkan bahwa literasi informasi menjadi pendorong utama terciptanya personal empowerment dan student’ freedom to learn. Ketika para murid mengetahui bagaimana cara menemukan dan menerapkan informasi, mereka dapat belajar sendiri apa yang mereka perlukan untuk belajar dan yang paling penting mereka dapat mempelajari bagaimana seharusnya belajar. Dengan literasi informasi ini memungkinkan mereka untuk menjadi pembelajar seumur hidup dan menjadi warga negara yang berguna dalam sebuah masyarakat yang sedang berubah. Salah satu prinsip dasar yang tertera dalam The Malaysian Smart School Conceptual Blueprint adalah para siswa dapat belajar memproses dan memanipulasi informasi, dan mereka pun dilatih untuk berpikir kritis. Beliau juga mengatakan bahwa semua sekolah di Malaysia dilengkapi dengan resources centre (perpustakaan sekolah) untuk menunjang proses belajar mengajar. Perpustakaan sekolah ini dikelola secara profesional oleh guru-pustakawan. Melalui pustakawan-guru inilah resources centre menjadi bagian yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah. Mentri Pendidikannya pun mengatakan bahwa perpustakaan sekolah merupakan bagian yang sangat penting untuk merealisasikan strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk literasi, edukasi, dan pembelajaran seumur hidup dan mencetak para siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan menjadi pengguna perpustakaan dan informasi yang efektif.

Kenyataan menunjukkan, bagaimana Malaysia dapat berada pada urutan di atas Indonesia dalam IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Sepuluh tahun yang lalu mahasiswa Malaysia banyak menduduki bangku-bangku kuliah di Indoneisa. Hari ini, sebaliknya mahasiswa Indonesia berbondong-bondong kuliah, dengan beasiswa, di Malaysia. Bukan hanya itu, buruh pun (TKI) tidak mau ketinggalan turut membanjiri negeri Jiran itu, baik berangkat dengan cara legal maupun ilegal.

Penutup

Informasi sangat penting dalam peradaban manusia, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Tanpa penguasaan informasi kehidupan seseorang, organisasi, atau bangsa akan tergilas oleh roda zaman yang kian cepat bergerak. Eksistensi bangsa kita sangat ditentukan oleh tingkat penguasaan informasi. Keterampilan menelusuri, mengevalusi, mengeinterpretasikan, dan mengaplikasikan informasi—yang kita sebut dengan literasi informasi—adalah sebuah keniscayaan. Sekarang ini di hadapan kita semua hanya tersedia dua pilihan: literasi informasi atau mati. Sebab hidup ini, kata Chairil Anwar, ”sekali berarti setelah itu mati.”

Sumber: http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/literasi-informasi-kunci-kemajuan-yang-terbuang?showall=1

Seribu Masjid Satu Jumlahnya

Satu.
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunya
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati

Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkan nama Allah ta’ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Empat
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gampang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya

Lima
Masjid ruh kita bawa ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab masjid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita

Enam
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya

Tujuh
Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan
Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat

Delapan
Bahkan seribu masjid, sejuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid’ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah

Sembilan
Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya ‘Alal Falah!

[Seribu Masjid Satu Jumlahnya - Emha Ainun Najib]

Peran Perpustakaan Digital

Sejarah Perpustakaan Digital

Digital Library (DL) atau Perpustakaan Digital adalah suatu perpustakaan yang menyimpan data, baik itu buku (tulisan), gambar, suara dalam bentuk file elektronik dan mendistribusikannya dengan menggunakan protokol elektronik melalui jaringan komputer.

Digital Library mulai berkembang pesat sejak tahun 1990 yang diiringi dengan kemajuan teknologi jaringan komputer yang memungkinkan pengaksesan informasi dari suatu tempat ke tempat lain yang sangat jauh dalam waktu singkat. Dimulai dengan terselenggarakannya Workshop on Digital Libraries tahun 1994, Digital Libraries (DL) yang disponsori ACM, kemudian Advances in Digital Libraries (ADL) yang disponsori oleh IEE/NASA/NLM yang secara kontinyu diselenggarakan.

Penelitian Digital Library pada intinya meneliti bidang pendigitalan dokumen dan pembangunan sistem untuk dokumen digital, yang dilanjutkan dengan penelitian tentang hak cipta dari dokumen, payment system, customer system, dan aplikasi-aplikasi lainnya. Semua aplikasi yang diteliti diarahkan menuju managemen aplikasi berbasis elektronik.


Pengembangan Perpustakaan Digital

Kebutuhan akan Teknologi Informasi (TI) sangat berhubungan dengan peran perpustakaan sebagai kekuatan dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan yang berkembang seiring dengan kegiatan menulis, mencetak, mendidik serta pemenuhan kebutuhan masyarakat akan informasi.

Dewasa ini, pustakawan menghadapi berbagai tantangan yang cukup berat sehubungan dengan adanya suatu evolusi dari perpustakaan klasik menuju perpustakaan yang berfungsi sebagai perpustakaan digital, di mana aplikasi ICT lebih menonjol tidak hanya mengelola perpustakaan klasik tapi juga kreasi baru, penyebaran dan akses sumber informasi dalam bentuk digital melalui jaringan komputer.

Karya dalam berbagai format, seperti buku, gambar, peta, rekaman suara, film dan lain sebagainya dapat dialihkan ke dalam format digital sehingga seluruh dokumen tersebut dapat dimuat ke dalam sistem komputer.

Jadi, Digital Library (DL) secara mendasar berdasarkan sistem berbasis jaringan komputer untuk pengadaan, penyimpanan, pengolahan, pencarian kembali, penyebaran dalam format digital kepada pemakai.

Untuk memberikan solusi bagi pustakawan dan dokumentalis dalam melakukan kegiatan kepustakawanan, sekarang mulai dikembangkan Software dalam bentuk:

1. CDS/ ISIS (Computerized Documentation Services/ Integrated Set of Information System)

Adalah software untuk mengelola pangkalan data bibliografis yang dibuat oleh UNESCO. CDS/ISIS versi DOS (Disk Operating System) telah digunakan lebih dari sepuluh tahun oleh berbagai jenis lembaga di dunia.

2. WINISIS

Adalah CDS/ ISIS versi Windows yang dikembangkan oleh UNESCO. Adanya berbagai faktor menyebabkan UNESCO terlambat memperkenalkan CDS/ ISIS, sehingga banyak lembaga dari berbagai belahan dunia mengembangkan sendiri CDS/ ISIS menjadi WINISIS.

3. WEBLIS

Adalah software untuk perpustakaan berbasis web yang merupakan pengembangan dari program CDS/ISIS yang lebih terintegrasi secara “full internet base”. WEBLIS berjalan menggunakan fasilitas www-isis engine yang juga dikembangkan oleh ICIE. Saat ini WEBLIS telah disediakan secara gratis dan secepatnya akan disebarkan sebagai Open Source Software.

4. INMAGIC

Adalah nama perusahaan yang memproduksi berbagai software penanganan dan pelayanan isi dari informasi, yang nantinya akan disebarkan ke Situs Web, intranet dan extranet.

5. VTLS (Virginia Tech Library System)

Adalah nama perusahaan yang memproduksi berbagai solusi untuk penanganan koleksi perpustakaan dan menciptakan perpustakaan digital. Saat ini, VTLS dipakai oleh akademisi, perusahaan, perpustakaan khusus dan museum di Amerika Serikat, Kanada dan lebih dari 30 negara.

Produk dari VTLS adalah :

Virtua ILS : Sistem Perpustakaan Terintegrasi
Virtua MIS : Sistem Penanganan Multimedia dan Pencitraan
Virtua CPS : Penampil Produk


Keunggulan Perpustakaan Digital

Saat ini bukan lagi era kepemilikan, namun menjadi era akses. Seperti saat kita memiliki data base, kita tidak memiliki barang tetapi memiliki akses misalnya saat kita membeli pulsa, tidak berwujud barang tetapi kita bisa mengakses.

Dalam perpustakaan, hal itu juga bisa terjadi. Kita tidak lagi fokus pada akses kepemilikan tapi pada aksesbilitas. Demikian juga perilaku pemakai perpustakaan yang menghendaki akses tidak harus secara fisik, namun secara on line.

Apalagi dengan adanya teknologi jaringan, melalui jaringan komputer lokal maupun global (internet), akses ke pangkalan data maupun koleksi dalam format digital dapat dilakukan kapan pun dan dari mana saja. Baik dari perpustakaan yang bersangkutan maupun dari tempat lain di luar gedung perpustakaan, dari luar kota bahkan dari luar negeri.

Dapat dibayangkan apabila koleksi perpustakaan di seluruh dunia dapat dipadukan dalam satu sistem Global Library, maka manfaatnya tentu akan sangat besar.

Sumber: Makalah Perpustakaan Digital di Era Global dari SMA 1 Kendal