KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
TERIMAKASIH ANDA TELAH BERKUNJUNG - SELAMAT MEMBACA - TIADA HARI TANPA BELAJAR dan MEMBACA ^_^

Selamat Pagi Indonesia

Selamat pagi Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
Akupun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu
dalam kerja yang sederhana;
Bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar
dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
Selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu pada pekerjaan jalanan;
Kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
Pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
Seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.

Akupun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu.

Pada setiap matahari terbit, o anak jaman yang megah,
biarkan aku memandang ke timur untuk mengenangmu.
Wajah-wajah yang penuh anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
Telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
Terasa benar: aku tak lain milikmu.

[Sapardi - Berkenalan dengan Puisi oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti]

Doa Sehelai Daun Kering

Janganku suaraku, ya 'Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maĆ­shum dan aku bergelimang hawaĆ­
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999

Syahadatain

Di antara sekian banyak tuntunan,
Hanya terbuka dengan satu syarat,
Mulailah segenap diri untuk mengucapkan,
Rangkaian kalimat dua jenjang syahadat.

Jenjang pertama adalah kesaksian,
Bertuhankan Allah yang Tiada Bandingan,
Bukti iman adalah satu kesatuan,
Dengan Islam dan kemantapan ihsan.

Jenjang kedua jugalah kesaksian,
Mengakui Muhammad Sang Utusan,
Mengakui jejak langkah amalan,
Berdasar ilmu sebagai pegangan.

Ucapkan syahadat dengan lidah,
Mantapkan hati dengan pembenaran,
Amalkan ilmu dengan kaffah,
Niscaya diri selamat dari kejahatan.

Apabila saudara telah bersyahadat,
Maka hukum harus ditegakkan,
Tiada kecuali dalam istiadat,
Patuh dan taat kepada ketetapan.

Hukum pertama adalah fardhu,
Bermakna wajib untuk dilakukan,
Jika antum enggan dan tak mau,
Maka dosa yang akan dibebankan.

Hukum kedua adalah haram,
Berarti haruslah ditinggalkan,
Apabila antum tetap melaksanakan,
Makhluk tak sanggup menahan Jahanam.

Hukum ketiga adalah sunat,
Balasan pahala bila dilaksanakan,
Namun jika tiada kesempatan,
Tak lah menjadi sesuatu yang sesat.

Hukum keempat adalah makruh,
Mendapat pahala jika ditinggalkan,
Tak pula membebani kening dengan peluh,
Jika tetap hendak melakukan.

Hukum kelima adalah mubah,
Tidak terpantang dan pula larangan,
Jika dilakukan atau ditinggalkan,
Maka hati tiada bersalah.

Perlu kiranya untuk disampaikan,
Mari istiqomah menaati aturan,
Tiada alasan untuk mengabaikan,
Hukum Allah yang telah ditetapkan.

Sebelum dosa menjadi terlanjur,
Kumpulkan pahala berlajur-lajur,
Jaga akhlak dalam berperilaku,
Apalagi hati yang hampir beku.

Bermohonlah kita kepada Allah,
Agar Islam dan iman memperoleh hakiki,
Tiada satupun niat yang berserah,
Melainkan ikhtiar yang silih berganti.

[Syahadatain - Bahril Hidayat]

Dia

Dia hidup di tengah degup kita
sebagai manusia biasa
tanpa tergantung tanda harga
ketinggian gunung makannya

kita melihat dengan mata,
yang kita nampak
hanyalah lampu palsu
yang selalu menipu
dia melihat dengan sukma,
yang dilihatnya
adalah sinar benar
yang tak kunjung samar

kita berlumba-lumba
mendulang emas mewah
di sungai usia
agar sampai ke laut megah
dia bersungguh-sungguh
menghidupkan api zikir
di unggun hati
agar tidak dingin dan sepi
daripada Nur Illahi

dia meniti di atas jembatan-Nya
tanpa bimbang dan curiga
tanpa mengharapkan pandangan manusia
baginya puji dan umpat
cumalah kicau burung
yang tiada menggunungkan untung
yang tiada memberatkan mudarat.

[Dia - Abizai]

Tuhan Telah Menegurmu

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan sopan
lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang

Adakah kau dengar?

[Laut Biru Langit Biru - Apip Mustapa]

Cermin Hidupku

Seorang tua
terbongkok-bongkok
dan terketar-ketar
dan terbatuk-batuk
berjalan terhingut-hingut
di pasar mencari ketiasan liur

sorang tua
dan garis-garis di muka
kuselami selaut sunyi
yang meronta
lihat saja di pasar itu
anak-anak muda
tiada yang sudi
menjadi teman

kepayahanmu
cuma Tuhan yang tahu

seorang tua
sejambak doa buatmu
kerana aku juga
akan jadi sepertimu

[Cermin Hidupku - Hajah Rosni binti Haji Kurus]

Bagaimana Kalau

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, 
tapi buah alpukat, 
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat, 
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, 
dan kepada Koes Plus kita beri mandat, 
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, 
dan ibukota Indonesia Monaco, 
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, 
salju turun di Gunung Sahari, 
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin 
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop, 
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia 
dibayar dengan pementasan Rendra, 
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, 
dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan, 
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di 
kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki 
pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara 
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan 
margasatwa Afrika, 
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil 
mempertimbangkan protes itu, 
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita 
pelihara ternak sebagai pengganti, 
Bagaimana kalau sampai waktunya  
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

[Bagaimana Kalau - Taufiq Ismail]

Daku dan Ilmu

Fajar nun cerah telah berlalu
Kini sinar mentari itu
Tegak menentang di atas kepala
Panas membara

Tulauhku telah berpelu
Kakiku penat
Namun jiwaku tetap teguh
Aku terus merangkak
Merangkak

Kukuatkan hatiku
Kutabahkan hatiku
Kubulatkan tekadku
'ntuk menjangkaumu

Andai senja mendatang
Kau ku dapatkan
Kan ku persembahkan
Pada bangsa dan negaraku

[Daku dan Ilmu - Mega Ayu Rika]

Ratapan Sang Pohon

Wahai manusia, jangan kau tanam aku
Jika hanya akan disia-siakan
dan diterpa angin dingin
yang menusuk tulang;
Jika hanya untuk menghadang jalan
Jika hanya untuk memperlambat
laju industri dan arus uang;
Jika hanya untuk menghabiskan air,
dan menggalakkan lalu lintas.

Jangan dengarkan keluhan
burung atau sungai
Karena jika gunung gundul
bersuka-rialah sang gagak

Jika kautanam,
tebanglah aku kembali dengan segera,
Jika aku tumbuh bersama si rakus,
Jika buahku menimbulkan peperangan dan amarah,

Jika aku menjadi sarang ular
tebanglah aku segera
Jika daunku hanya menebarkan bau
tumpukan sampah kotor
dan memperpanjang masa sekolah
anak cucumu

Jangan pikirkan badai
dan sengatan mentari
Tak seorang pun dapat terbiasa
di dunia yang semakin gelap

[Ratapan Sang Pohon - Rio Alma]

Seperti Air Laut

Hidup ini seperti air laut
ada pasang ada surut
di dasarnya tersimpan seribu rahsia
penuh harapan
tapi tanpa perlindungan
dari panas dan hujan

Begitulah hidup ini
seperti air laut
sentiasa bergelombang
ombaknya menghempas batu karang
dan buihnya meresap ke pasir
tiada kesudahan

Hidup ini seperti air laut
esoknya masih tiada kepastian
dugaan dan halangan silih berganti
dan bahtera terus berlayar
ke pulau harapan

Hidup ini seperti air laut
sentiasa dalam penantian
berbakti pada yang memerlukan
satu amanah dari Tuhan

[Seperti Air Laut - Abd Latip Talib]

Ikhlas

Perkataan tanpa huruf
huruf tanpa garis
garis tanpa titik
titik tanpa rupa
jika disebut
cendawan suburnya
pasti 'kan mereput
jika ditunjuk
kelopak harumnya
tentu 'kan membusuk

menanam serai budi serumpun
tanpa mengharapkan pohon puji merimbun
menuai padi rezeki sedikit
menampi beras syukur menimbun

memberi dari dasar hati
menerima dengan redah sukma
umpama segelas air jernih
di dalam gelas jernih
tanpa warna
cuma rasa
cinta pada-Nya

[Ikhlas - Abizai]

Lalat di dalam Sholat

Ketika mengharungi lautan sholat
kau cari pulau khusuk yang teduh
namun ribuan lalat mula hinggap di layar ingatan
membawamu sesat di selat khayalan

jangan kau harap akan berjumpa
selagi keakuanmu tidak kau nafikan
selagi keakuan-Nya tidak kau isbatkan

jangan kau harap akan bertemu
selagi tidak kau bersihkan bahtera kalbumu
yang penuh dengan najis cemburu
yang sarat dengan nanah amarah
yang berat dengan sampah dendam
yang pekat dengan lendir berahi
sarang membiak zuriat maksiat
hasil permukahan nafsu dan syaitan

telah cuba kau halau keluar segala lalat
hilang sekejap muncul lagi sesaat
kerana bau busuk merangsangkan seronok
ribuan lalat tak mungkin menjauh
selat khayalan semakin memanjang
pulau khusuk tak kunjung nampak

[Lalat di dalam Sholat - Abizai]

Aku dan Karyaku

Bila kupandang
Jauh ke depan
Aku bersama karyaku

Bila kudengar
Jauh ke belakang
Aku bersama karyaku

Bila kususun
Lautan nan badai
Aku terombang-ambing

Aku lemah
Karyaku kaku
Hijahku senget

Lalu kugeseri karyamu
Kau mantap
Kau tinggi

Agung
Tapi aku
Masih jauh di belakang

[Aku dan Karyaku - Dayang Laila Sari binti Haji Bakar, 8 Oktober 1997]