KOLEKSI PUSTAKA

KOLEKSI PUSTAKA

MENANTI DIBACA

MENANTI DIBACA

MEMBACA

MEMBACA

BUKU PUN TERSENYUM

BUKU PUN TERSENYUM
TERIMAKASIH ANDA TELAH BERKUNJUNG - SELAMAT MEMBACA - TIADA HARI TANPA BELAJAR dan MEMBACA ^_^

TITISAN KEGELAPAN

Tertunduk wajah malu
Hasrat memaki nafsu tersaji
Melumat sunyi hampa hati
Bercumbu dengan tanah bumi

Coba menelisik jalan mati
Di mana pencabut nyawa sembunyi
Sasar logika dalam tipu maya fana
Dalam rimba belantara hitam

Sukma merayu mesra
Berharap suci menghampiri
Singkirkan titik noda
Berkarat dan melumut

Kesombongan pula keangkuhan diri
Nikmat berebah
Jasad berlumur darah
Busuk nanah tercurah

Membakar asa nan punah
Siksa mendera
Di bawah naungan dosa

Oleh: Ustadz Kabuto Sense Kun


Sumber: http://www.cetmas.com/2016/01/kumpulan-puisi-kematian-dan-puisi-islami-terbaru-sangat-menyentuh.html

"Sabar; bersama Allah", katanya :-)

Assalamu'alaikum Jama'ah pustakahikmahiyah ambaru ragaku kan bersama anggadah gawe Bakso Tusuk Lan Bakso Bakar. Bedo karo biyen; soale aku wis dipecat soko SMP Muhammadiyah Banguntapan... :-)

Baik Hati

Nenek saya naik pohon kelapa
Makan nangka enak rasanya
Jelek rupa tak apa-apa
Siapa sangka baik hatinya

Okimtajus Rajaf Sensen, ***, ***

Diam Seribu Bahasa

Hi Ra, Aira anakku. Hari ini ada masalah lagi dengan ibumu, bahkan mamak juga ikut menjadi bermasalah. Mereka mendiamkanku Ra. Coba saat tadi pagi mereka sedikit tersenyum dan menyapaku, maka masalah tadi malam akan cair. Senyum itu bagaikan air Ra -Aira, he dirimu-. Senyum itu bentuknya macam-macam, sikap ramah juga diantaranya. Ramah sesuai dengan sifatnya. Kalau ramahnya diriku ya senyum Ra, di bibir. Airnya ludah Ra -jorok kata ibumu-.
Aku cerita Ra dengan dengan saudara ibumu lewat sms. Tulisannya begini Ra, “Sekarang mamak & Ngatini mendiamkanku. Gak apa2. Padahal sudah kubawakan air yang dimasak sendiri. Karenaku bawakan air mineral tadi malam ditolak. ~sedikit catatan diary yang kelak akan menjadi cerita kenangan~ kukira anak-anak suka akan cerita.”
Respon mereka Ra. Air Ra, Air Ra______________senyum ^_^ hi malu-malu kucing. :-P Kucing tu hewan kesukaan ibumu Ra. Begini: 
Ichan: ~ Maaf mas Fajar saya kakaknya Ngatini. Kalau boleh bicara sbentar. Mungkin bisa bertukar pikiran. Jangan dipendam sendiri. Faj: - Humm..dalam hal bicara aku kurang begitu baik. Bicara itu gak bisa diedit dan susah untuk diralat. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Harus hati-hati. Menyindirpun barangkali orang tahu. Apalagi orang yang peka. Aku lebih suka menulis. - Dulu aku pernah kecelakaan kak, mungkin gegar otak. Saat SD. Ada bekasnya dikepala. Kalau nggak enak hati suka pusing. Itu makanya aku sering pergi. Bahkan tanpa pamit. Hanya untuk meredakan sakit kepala. Seringkali hal itu diterjemahkan sbg kemarahan oleh Ngatini. Padahal bukan. Kalau dibilang marah, itulah kemudian malah menjadi marah beneran. Atta: ~ Ndak gitu juga kamu menyikapi. Emang kemarin sore mbak bawain dari rumah. Sekalian bawain perlak sama popok. Tini ma mamak ndak diemin kamu. Emang Tini masih marah sama kamu? Faj: - Tini sudah cerita tentang itu. Waktu menolak mineral mintanya air dimasak; karena lebih baik katanya. Padahal sudah kubelikan 3 botol besar. Satu kubawa ke kamar, sisanya di motor. Beli banyak krena Tini suka minum. Mumpung dari Mangiran. Disana lebih murah daripada di sini. Tadi pagi aq pulang sbentar jam 3an ngambil air di masak sendiri. Aq dari sebelum subuh udah di kamar bangsal. Sebelum dan sesudah sholat shubuh baca qur’an. Lama disitu masak gak tahu. - Tadi sempat ada sindiran lho.. 1. ~ngebak2i~ inti bicara Mamak kepada orang lain. 2. ~semangat banget~ ngatini bilang saat ada Mamak. Orang baca itu bisa dengar. Apalagi aq bacanya cuma bibir bergerak kelihatannya. - Aq seharian kemarin ngurus surat-suratnya Aira. Lapor RT sama dukuh untuk buat KK. Aku jemput ibu dari kota, agar ibu ngrawat Gori, sama tempe yang mulai busuk & ngurus rumah Mangiran yang kotor. Sementara aku makani ternak sama ngurus surat. Agar cepat bekerja bareng. Karena aku ingin segera ke rumah sakit. Atta: ~ Ya intinya kamu yang sabar. Emang watak Tini keras. Watak keras kalau dikerasin malah menjadi-jadi. Aku aja ngadepin Tini kalu pas marah, aku diemin tar juga baikan lagi. Emang dari aku kenal Tini emang gitu. yang sabar demi anakmu. Faj: - :-) Ya ~ O, gitu. Lha sekarang kamu di rumah sakit. Besok rencana pulangnya gimana? Faj: - Ya aq sekarang di rumah sakit. Pulangnya Tini dan Aira nunggu fihak rumah sakit. Pulangnya besok aku setuju ke Sedayu dulu. Mangiran mau kutata terlebih dahulu. Biar Tini penyembuhannya di Sedayu, di sana juga ada yang bantu ngrawat. Sementara aku konsentrasi jualan. Karena mau produksi dan jual sendiri. Ke Sedayunya jarang karena buat bakso kalau sendiri lama. Harus pake nglembur juga. Agar santai. Jualan juga untuk masa depan keluarga. - Oh iya. Ke Sedayunya terserah Tini. Kuanjurkan sih sampai bisa ngerawat Aira sendiri. Aku juga cerita begitu pada RT Mangiran. Urusan jualan biar aku saja. Aku kan Koki.. he he.., bisa masak sendiri. Ichan: ~ Oh, begitu. Tini tahu mas. Gini lho mas, seorang istri itu perlu perhatian, apalagi dalam kondisi baru melahirkan. Perlu ditunggui. Semua jadi sensitif. Tadi saya telepon Tini dia cerita banyak. Ya sekarang tenangkan diri dulu. Koreksi masing-masing kekurangan ataupun apa itu masalah kalian. Mas saya gak pandai nyusun kata-kata jadi maaf kalau nyinggung perasaan mas Fajar. Faj: - Eh, aq tu nggak mudah tersinggung. Aq jarang marah sebenarnya. Malah suka bercanda. Atta: ~ Hebat,, trus rencana pulangnya pake apa? Faj: Wah kalau itu gak ada rencana. Adanya ya motor itu. Motornya juga kalau mau dipakai siap dikembalikan. Atta: ~ Ya mulai dari sekarang rembugan ma Tini Mamak,, gimana baiknya besok pulang pake apa? Tapi kalau menurutku enaknya pake mobil,, pertama Tini kan habis operasi mungkin masih sakit. Kedua, kasian bayinya kena angin masih rentan,, Kekebalan tubuhnya masih belum sempurna. Tapi ya terserah kamu. Kamu kan kepala keluarga sekarang. Harus bisa mutusin sendiri. Faj: - Ya.. aku juga kepikiran itu.. tapi aku kan gak punya.. punyanya ya itu tadi. Kalau mau sewa dan pinjam, aku males e :-( ~ Kok males gimana? Tapi ya terserah kamu ma Tini sih. Aq dak bisa mutusin. Itu dah jadi keputusan kamu ma Tini. Faj: - Aq suka mandiri.. seadanya.. semampunya... mau dibantu :-) gak menolak ^_^ Namanya juga makluk sosial. Sosial ~saling bantu membantu~
Faj~~~~sms terakhir ke Ichan: Nah kalau masalah menunggu ya; aq gak masalah. Tapi, ada urusan yang harus diselesaikan di dalam & di luar rumah sakit. Sbenarnya perawat mempermasalahkan kepergianku, suruh oranglain aja yang pergi, tapi setelah ngobrol aq disuruh ninggal nomer dan siap datang kapan saja saat dipanggil; setelah janji itulah aku sering pega-pegi. Karena banyak hal yang harus diselesaikan di luar & emang gak ada wakilnya.

Kisah Nabi Yusuf

Sebelas bintang matahari dan rembulan bersujudlah.
kepadanya Rupawan yang bagai malaikat amatlah indah berseri wajahnya.
Tujuh tangkai gandum yang hijau ditambah tujuh tahun musim kemarau.
Nabi Yusuf tiada berdendam walau dia disakiti.

Yusuf yang kecil pun dibawa berjalan-jalan ke dalam hutan.
Ditinggalkan keseorangan dicampak dia jauh ke dalam perigi.
Angkara jahat aniaya abang-abangnya yang sangat iri hati.
Nabi Yaakub ayah mereka buta sedih sekali.

Yusuf, Yusuf a’laihis salam.

Yusuf diambil kafilah peniaga dijadikan hamba.
Akhirnya dibeli keluarga yang kaya raya pembesar negeri.
Setelah meningkat dewasa bijak bestari menilik mimpi.
Dilantik menjadi menteri negara aman harmoni.

Sebelas bintang matahari dan rembulan bersujudlah kepadanya.
Rupawan yang bagai malaikat amatlah indah berseri wajahnya.
Tujuh tangkai gandum yang hijau ditambah tujuh tahun musim kemarau.
Nabi Yusuf tiada berdendam walau dia disakiti.

Yusuf, Yusuf a’laihis salam.

[Kisah Nabi Yusuf - Aura]

CINTA - APA ADANYA

Sungguh
Cinta mengubah yang pahit menjadi manis
Debu beralih emas
Keruh menjadi bening
Sakit menjadi sembuh
Penjara menjadi telaga
Derita menjadi nikmat
Dan kemarahan menjadi rahmat

Cintalah yang melunakkan besi
Menghancur-leburkan batu karang
Membangkitkan yang mati
Dan meniupkan kehidupan padanya
Serta membuat budak menjadi pemimpin
(Jalaluddin Rumi)

Dalam senyapnya malam
Dalam gundahnya hati
Aku mencari makna sebuah cinta yang hakiki

Dalam raga terlena
Resah hampanya jiwa
Akhirnya terungkap satu cinta di atas cinta

Kadang cinta bahagia
Kadang cinta menderita
Kadang lupa segala-galanya
Karena itu kembali padaNya

Cinta kawan tak sepadan
Cinta guru yang tak berujung
Cinta ibu bapak tak berbalas, diberikan sepanjang jalan
Cinta rosul bagaikan air, mengalir kepada umatnya
Cinta Allah sebuah misteri, bagi setiap hamba-hambaNya

Fitrah manusia mencintai dicintai
Setiap insan mengalami tentang rasa cinta
(Cinta di atas Cinta, The Fikr)

Kalau membahas tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Setiap manusia memiliki persepsi berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Karena, setiap manusia memiliki pengalaman sendiri-sendiri, serta pengetahuan yang berbeda. Allah mendidik kita dengan berbagai peristiwa yang menimpa kita, tentang rasa cinta, agar kita lebih memahami akan hikmah yang tersirat.
Mencintai dengan apa adanya…..
Menurutku hakikat mencintai adalah memberi dengan tidak mengharapkan apapun kecuali kebahagiaan yang dicintai. Karena kebahagiaannya adalah kebahagiaan yang mencintai itu pula. Karena apa ingin memberi? hanya karena sebuah dorongan hati, hati yang memiliki sebuah cinta tanpa syarat, sebuah perasaan walau sekecil apapun, karena hanya mengharap keredloan Allah semata. Dari situlah kemudian timbul kebahagiaan, bahkan mungkin sampai di akhirat kelak. Sebuah gambaran tentang cinta, ibarat satu tubuh, apabila mulut memakan makanan yang enak, otak ikut merasakan, dan tangan mengacungkan jempol, hati merasa gembira, dsb.
Hidup memang selalu ada masalah, karena hidup itu sendiri adalah masalah. Ibarat hati adalah tempat menampung. Jangan jadikan hati kita itu sebesar gelas yang hanya bisa menampung sedikit air. Apabila dimasukkan garam di dalamnya akan mudah terasa asin, dan apabila dimasukkan asam akan mudah terasa asam pula. Jadikanlah hati kita seluas telaga, yang airnya jernih dan bening. Walaupun dimasukkan garam dan asam, tak akan begitu terasa apabila dirasakan airnya.
Wallahu alam bisshawab

Menari di Atas Kertas

Kertas putih akan tetap menjadi putih
Jika tetap dibiarkan putih
Entah berapa lama tidak menjadikan pena itu menari
Terbiasa jari jemari menari sendiri

Mau menulis apa hari ini
Serasa bingung sendiri
Kepala ini, kepala ini pusing
Merasa diri, merasa diri tak bisa bersuara nyaring

Apakah karena sakit itu
Sehingga aku sering merasa ragu
Mengisi hari
Menghadapi takdir ini

Menulis saja pun menggunakan pencil
Agar mudah untuk dihapus
Teringat diri sewaktu kecil
Saat masih belajar menulis

Tetaplah berprasangka baik
Kepada-Nya yang Maha Baik
Saat hari ini merasa bingung
Janganlah kau jadi murung

[Menari di Atas Kertas, Oleh: (FS) Fajar Sujatmiko, S.IP.]

Nuansa Merah

Api unggunnya mulai menyala saudara
Merahnya dipantulkan oleh cermin
Melingkar, jiwa terbakar oleh api
Dendangkan lagu kehidupan

Merah darahku, darahmu juga
Berjuang tak kenal lelah
Membangun peradaban
Demi bangsamu

Malam pun tak lagi gelap dan sunyi
Nuansa merah mulai didendangkan
Kau tak lagi sendiri
Bersama kita mulai menari

Tik, Tik, Tik, Tik
Jari ku pun menari
Tarian di atas huruf
Mata merah mulai mengantuk

Tik, Tik, Tik, Tik
Jam berdetik, jantung berdetak
Api unggunnya mulai padam
Damai menyelimuti kami

(Syair Fajar Sujatmiko, M.IP.)

Gelap dan Terang

Malam gulitanya gelap
Tak gelap bila ada terang
Bintang gemintang, rembulan di sana

Bintang cahaya energi
Kota berhias cahaya
Meski malam gelap ada terang

Rembulan bias cahaya
Indah diterpa malam
Wajah-wajah bercahaya menghias malam

Bila malam tiba
Serasa diri ingin segera berbaring
Menelusuri gelap berlayar di lautan malam

Hidup berawal dari mimpi
Bila ada gelap ada juga terang
Terangkan hati kami ya Allah

Semua Itu Ada Bukunya

Matematika dunianya berhitung
Bahasa dunianya kata-kata
Kimia dunianya reaksi
Akhlak dunianya sopan santun
Sejarah dunianya masa lalu

Semua itu ada bukunya

Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku
Ini bukuku mana bukumu?

Nyanyian Keabadian

Hujan jatuh di luar musim
Menghijaukan rumput di jalan

Hujan jatuh bersama angin
Melambaikan daun di dahan

Hujan jatuh membawa dingin
Menyejukkan rindu di badan

Cinta yang tumbuh setiap musim
Adalah cintaku pada keabadian

[Nyanyian Keabadian - Ayatrohaedi]

Selamat Pagi Indonesia

Selamat pagi Indonesia, seekor burung mungil mengangguk
dan menyanyi kecil buatmu.
Akupun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu,
dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu
dalam kerja yang sederhana;
Bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar
dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal.
Selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah,
di mata para perempuan yang sabar,
di telapak tangan yang membatu pada pekerjaan jalanan;
Kami telah bersahabat dengan kenyataan
untuk diam-diam mencintaimu.
Pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu
agar tak sia-sia kau melahirkanku.
Seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam
padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya.

Akupun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan,
merubuhkan kesangsian,
dan menyusun batu demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu.

Pada setiap matahari terbit, o anak jaman yang megah,
biarkan aku memandang ke timur untuk mengenangmu.
Wajah-wajah yang penuh anak sekolah berkilat,
para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
Telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura.
Selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil
memberi salam kepada si anak kecil;
Terasa benar: aku tak lain milikmu.

[Sapardi - Berkenalan dengan Puisi oleh Prof. Dr. Suminto A. Sayuti]

Doa Sehelai Daun Kering

Janganku suaraku, ya 'Aziz
Sedangkan firmanMupun diabaikan
Jangankan ucapanku, ya Qawiy
Sedangkan ayatMupun disepelekan
Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah
Sedangkan kasih sayangMupun dibuang
Jangankan sapaanku, ya Matin
Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan
Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka
Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus
Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka
Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban
Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati
Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali
Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti
Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu
Sedangkan IbrahimMu dibakar
Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut
Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian
Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir
Engkau Maha Agung dan aku kerdil
Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan
Engkau Maha Kuat dan aku lemah
Engkau Maha Kaya dan aku papa
Engkau Maha Suci dan aku kumuh
Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya
Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar
Rasul kekasihMu maĆ­shum dan aku bergelimang hawaĆ­
Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab
Wahai Mannan wahai Karim
Wahai Fattah wahai Halim
Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu
Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu
Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaanMu

Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999

Syahadatain

Di antara sekian banyak tuntunan,
Hanya terbuka dengan satu syarat,
Mulailah segenap diri untuk mengucapkan,
Rangkaian kalimat dua jenjang syahadat.

Jenjang pertama adalah kesaksian,
Bertuhankan Allah yang Tiada Bandingan,
Bukti iman adalah satu kesatuan,
Dengan Islam dan kemantapan ihsan.

Jenjang kedua jugalah kesaksian,
Mengakui Muhammad Sang Utusan,
Mengakui jejak langkah amalan,
Berdasar ilmu sebagai pegangan.

Ucapkan syahadat dengan lidah,
Mantapkan hati dengan pembenaran,
Amalkan ilmu dengan kaffah,
Niscaya diri selamat dari kejahatan.

Apabila saudara telah bersyahadat,
Maka hukum harus ditegakkan,
Tiada kecuali dalam istiadat,
Patuh dan taat kepada ketetapan.

Hukum pertama adalah fardhu,
Bermakna wajib untuk dilakukan,
Jika antum enggan dan tak mau,
Maka dosa yang akan dibebankan.

Hukum kedua adalah haram,
Berarti haruslah ditinggalkan,
Apabila antum tetap melaksanakan,
Makhluk tak sanggup menahan Jahanam.

Hukum ketiga adalah sunat,
Balasan pahala bila dilaksanakan,
Namun jika tiada kesempatan,
Tak lah menjadi sesuatu yang sesat.

Hukum keempat adalah makruh,
Mendapat pahala jika ditinggalkan,
Tak pula membebani kening dengan peluh,
Jika tetap hendak melakukan.

Hukum kelima adalah mubah,
Tidak terpantang dan pula larangan,
Jika dilakukan atau ditinggalkan,
Maka hati tiada bersalah.

Perlu kiranya untuk disampaikan,
Mari istiqomah menaati aturan,
Tiada alasan untuk mengabaikan,
Hukum Allah yang telah ditetapkan.

Sebelum dosa menjadi terlanjur,
Kumpulkan pahala berlajur-lajur,
Jaga akhlak dalam berperilaku,
Apalagi hati yang hampir beku.

Bermohonlah kita kepada Allah,
Agar Islam dan iman memperoleh hakiki,
Tiada satupun niat yang berserah,
Melainkan ikhtiar yang silih berganti.

[Syahadatain - Bahril Hidayat]

Dia

Dia hidup di tengah degup kita
sebagai manusia biasa
tanpa tergantung tanda harga
ketinggian gunung makannya

kita melihat dengan mata,
yang kita nampak
hanyalah lampu palsu
yang selalu menipu
dia melihat dengan sukma,
yang dilihatnya
adalah sinar benar
yang tak kunjung samar

kita berlumba-lumba
mendulang emas mewah
di sungai usia
agar sampai ke laut megah
dia bersungguh-sungguh
menghidupkan api zikir
di unggun hati
agar tidak dingin dan sepi
daripada Nur Illahi

dia meniti di atas jembatan-Nya
tanpa bimbang dan curiga
tanpa mengharapkan pandangan manusia
baginya puji dan umpat
cumalah kicau burung
yang tiada menggunungkan untung
yang tiada memberatkan mudarat.

[Dia - Abizai]

Tuhan Telah Menegurmu

Tuhan telah menegurmu dengan cukup sopan
lewat perut anak-anak yang kelaparan

Tuhan telah menegurmu dengan sopan
lewat semayup suara adzan

Tuhan telah menegurmu dengan cukup menahan kesabaran
lewat gempa bumi yang berguncang
deru angin yang meraung-raung kencang
hujan dan banjir yang melintang pukang

Adakah kau dengar?

[Laut Biru Langit Biru - Apip Mustapa]

Cermin Hidupku

Seorang tua
terbongkok-bongkok
dan terketar-ketar
dan terbatuk-batuk
berjalan terhingut-hingut
di pasar mencari ketiasan liur

sorang tua
dan garis-garis di muka
kuselami selaut sunyi
yang meronta
lihat saja di pasar itu
anak-anak muda
tiada yang sudi
menjadi teman

kepayahanmu
cuma Tuhan yang tahu

seorang tua
sejambak doa buatmu
kerana aku juga
akan jadi sepertimu

[Cermin Hidupku - Hajah Rosni binti Haji Kurus]

Bagaimana Kalau

Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam, 
tapi buah alpukat, 
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat, 
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah, 
dan kepada Koes Plus kita beri mandat, 
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi, 
dan ibukota Indonesia Monaco, 
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas, 
salju turun di Gunung Sahari, 
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin 
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop, 
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia 
dibayar dengan pementasan Rendra, 
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi, 
dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan, 
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di 
kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki 
pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara 
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan 
margasatwa Afrika, 
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil 
mempertimbangkan protes itu, 
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita 
pelihara ternak sebagai pengganti, 
Bagaimana kalau sampai waktunya  
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.

[Bagaimana Kalau - Taufiq Ismail]

Daku dan Ilmu

Fajar nun cerah telah berlalu
Kini sinar mentari itu
Tegak menentang di atas kepala
Panas membara

Tulauhku telah berpelu
Kakiku penat
Namun jiwaku tetap teguh
Aku terus merangkak
Merangkak

Kukuatkan hatiku
Kutabahkan hatiku
Kubulatkan tekadku
'ntuk menjangkaumu

Andai senja mendatang
Kau ku dapatkan
Kan ku persembahkan
Pada bangsa dan negaraku

[Daku dan Ilmu - Mega Ayu Rika]

Ratapan Sang Pohon

Wahai manusia, jangan kau tanam aku
Jika hanya akan disia-siakan
dan diterpa angin dingin
yang menusuk tulang;
Jika hanya untuk menghadang jalan
Jika hanya untuk memperlambat
laju industri dan arus uang;
Jika hanya untuk menghabiskan air,
dan menggalakkan lalu lintas.

Jangan dengarkan keluhan
burung atau sungai
Karena jika gunung gundul
bersuka-rialah sang gagak

Jika kautanam,
tebanglah aku kembali dengan segera,
Jika aku tumbuh bersama si rakus,
Jika buahku menimbulkan peperangan dan amarah,

Jika aku menjadi sarang ular
tebanglah aku segera
Jika daunku hanya menebarkan bau
tumpukan sampah kotor
dan memperpanjang masa sekolah
anak cucumu

Jangan pikirkan badai
dan sengatan mentari
Tak seorang pun dapat terbiasa
di dunia yang semakin gelap

[Ratapan Sang Pohon - Rio Alma]

Seperti Air Laut

Hidup ini seperti air laut
ada pasang ada surut
di dasarnya tersimpan seribu rahsia
penuh harapan
tapi tanpa perlindungan
dari panas dan hujan

Begitulah hidup ini
seperti air laut
sentiasa bergelombang
ombaknya menghempas batu karang
dan buihnya meresap ke pasir
tiada kesudahan

Hidup ini seperti air laut
esoknya masih tiada kepastian
dugaan dan halangan silih berganti
dan bahtera terus berlayar
ke pulau harapan

Hidup ini seperti air laut
sentiasa dalam penantian
berbakti pada yang memerlukan
satu amanah dari Tuhan

[Seperti Air Laut - Abd Latip Talib]

Ikhlas

Perkataan tanpa huruf
huruf tanpa garis
garis tanpa titik
titik tanpa rupa
jika disebut
cendawan suburnya
pasti 'kan mereput
jika ditunjuk
kelopak harumnya
tentu 'kan membusuk

menanam serai budi serumpun
tanpa mengharapkan pohon puji merimbun
menuai padi rezeki sedikit
menampi beras syukur menimbun

memberi dari dasar hati
menerima dengan redah sukma
umpama segelas air jernih
di dalam gelas jernih
tanpa warna
cuma rasa
cinta pada-Nya

[Ikhlas - Abizai]

Lalat di dalam Sholat

Ketika mengharungi lautan sholat
kau cari pulau khusuk yang teduh
namun ribuan lalat mula hinggap di layar ingatan
membawamu sesat di selat khayalan

jangan kau harap akan berjumpa
selagi keakuanmu tidak kau nafikan
selagi keakuan-Nya tidak kau isbatkan

jangan kau harap akan bertemu
selagi tidak kau bersihkan bahtera kalbumu
yang penuh dengan najis cemburu
yang sarat dengan nanah amarah
yang berat dengan sampah dendam
yang pekat dengan lendir berahi
sarang membiak zuriat maksiat
hasil permukahan nafsu dan syaitan

telah cuba kau halau keluar segala lalat
hilang sekejap muncul lagi sesaat
kerana bau busuk merangsangkan seronok
ribuan lalat tak mungkin menjauh
selat khayalan semakin memanjang
pulau khusuk tak kunjung nampak

[Lalat di dalam Sholat - Abizai]

Aku dan Karyaku

Bila kupandang
Jauh ke depan
Aku bersama karyaku

Bila kudengar
Jauh ke belakang
Aku bersama karyaku

Bila kususun
Lautan nan badai
Aku terombang-ambing

Aku lemah
Karyaku kaku
Hijahku senget

Lalu kugeseri karyamu
Kau mantap
Kau tinggi

Agung
Tapi aku
Masih jauh di belakang

[Aku dan Karyaku - Dayang Laila Sari binti Haji Bakar, 8 Oktober 1997]

Menyorong Rembulan


Gerhana rembulan hampir total. Malam gelap gulita. Matahari berada pada satu garis dengan bumi dan rembulan. Cahaya matahari yang memancar ke rembulan tidak sampai ke permukaan rembulan karena ditutupi oleh bumi. Sehingga rembulan tidak bisa memantulkan cahaya matahari ke permukaan bumi.

Matahari adalah lambang Tuhan. Cahaya matahari adalah rahmat nilai kepada bumi yang semestinya dipantulkan oleh rembulan. Rembulan adalah para kekasih Allah, para rasul, para nabi, para ulama, para cerdik cendekia, para pujangga, dan siapapun saja yang memantulkan cahaya matahari atau nilai-nilai Allah untuk mendayagunakannya di bumi. Karena bumi menutupi cahaya matahari maka malam gelap gulita.

Dan di dalam kegelapan segala yang buruk terjadi. Orang tidak bisa menatap wajah orang lainnya secara jelas. Orang menyangka kepala adalah kaki. Orang menyangka utara adalah selatan. Orang bertabrakan satu sama lain. Orang tidak sengaja menjegal satu sama lain, atau bahkan sengaja saling menjegal satu sama lain. Di dalam kegelapan orang tidak punya pedoman yang jelas untuk melangkah, akan ke mana melangkah, dan bagaimana melangkah.

Ilir-ilir, kita memang sudah nglilir, kita sudah bangun, sudah bangkit. Bahkan kaki kita sudah berlari ke sana ke mari, namun akal pikiran kita belum, hati nurani kita belum. Kita masih merupakan anak-anak dari orde yang kita kutuk di mulut, namun ajarannya-ajarannya kita biarkan hidup subur di dalam aliran darah dan jiwa kita.

Kita mengutuk perampok dengan cara mengincarnya untuk kita rampok balik. Kita mencerca maling dengan penuh kedengkian, kenapa bukan kita yang maling. Kita mencaci penguasa lalim dengan berjuang keras untuk bisa menggantikannya. Kita membenci para pembuat dosa besar dengan cara setan, yakni melarangnya untuk insaf dan bertobat. Kita memperjuangkan gerakan anti penggusuran dengan cara menggusur. Kita menolak pemusnahan dengan merancang pemusnahan-pemusnahan. Kita menghujat para penindas dengan riang gembira sebagaimana Iblis, yakni kita halangi usahanya untuk memperbaiki diri.

Siapakah selain setan, iblis dan dajjal, yang menolak husnul khotimah manusia, yang memblokade pintu sorga, yang menyorong mereka mendekat ke pintu neraka? Sesudah ditindas, kita menyiapkan diri untuk menindas. Sesudah diperbudak, kita siaga untuk ganti memperbudak. Sesudah dihancurkan, kita susun barisan untuk menghancurkan.

Yang kita bangkitkan bukan pembaruan kebersamaan, melainkan asyiknya perpecahan. Yang kita bangun bukan nikmatnya kemesraan, tapi menggelegaknya kecurigaan. Yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan, melainkan prasangka dan fitnah. Yang kita perbaharui bukan penyembuhan luka, melainkan rencana-rencana panjang untuk menyelenggarakan perang saudara. Yang kita kembang suburkan adalah kebiasaan memakan bangkai saudara-saudara kita sendiri.

Kita tidak memperluas cakrawala dengan menabur cinta, melainkan mempersempit dunia kita sendiri dengan lubang-lubang kebencian dan iri hati. Pilihanku dan pilihanmu adalah apakah kita akan menjadi bumi yang mempergelap cahaya matahari, sehingga bumi kita sendiri tidak akan mendapatkan cahayanya, atau kita berfungsi menjadi rembulan, kita sorong diri kita bergeser ke alam yang lebih tepat, agar kita bisa dapatkan sinar matahari dan kita pantulkan nilai-nilai Tuhan itu kembali ke bumi?

[Menyorong Rembulan - Emha Ainun Nadjib]